Powered By Blogger

Kamis, 11 Juni 2026

PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN

 Makna Pendidikan (26)

PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN

Oleh:
Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.




Pendidik adalah sebuah profesi yang mulia, sebagaimana halnya profesi dokter, profesi pedagang, pegawai kantoran, ataupun tukang batu. Kesamaan "mulia" di sini jika ditinjau profesi pendidik sebagai pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan sebagaimana profesi (pekerjaan) yang lain. 


Profesi pendidik menjadi berbeda dibandingkan profesi lainnya jika ditinjau dari lingkup kerjanya. Dokter bekerja membantu pasien sembuh dari penyakitnya. Pedagang bekerja menjual barang dagangannya. Pegawai kantoran bekerja mengerjakan tugas administrasi. Tukang batu bekerja membangun bangunan. Di semua profesi ini, hasil pekerjaan ada saat berinteraksi dengan pelaku profesi. 


Dokter bekerja membantu pasien sembuh dari penyakitnya, bukan menyiapkan pasien mampu menyembuhkan penyakitnya sendiri. Pedagang bekerja menjual barang dagangan kepada pembeli saat jual beli, bukan menyiapkan pembeli mampu menyediakan barang kebutuhannya sendiri. Pegawai kantoran bekerja menyelesaikan tugas administrasi hanya saat diberi tugas atasannya. Tukang batu bekerja membangun bangunan sesuai keinginan klien, bukan menyiapkan kliennya jadi mampu membangun sendiri. Tetapi untuk profesi pendidik berbeda. Apa perbedaan profesi pendidik dengan beberapa profesi lainnya?


Pendidik bekerja tidak hanya mengajar (transfer pengetahuan dan skill), tetapi lebih luas lagi yaitu mendidik. Mendidik berbeda dengan mengajar. Orang yang bisa atau sudah mengajar belum tentu bisa mendidik. Tetapi orang yang mendidik pasti bisa mengajar. Jadi cakupan pekerjaan dalam mendidik yang menjadi tugas seorang pendidik jauh lebih luas dibandingkan sekadar mengajar. Tingkat  kompleksitas tugas mendidik jauh lebih rumit dibandingkan dengan sekadar mengajar. 


Proses pendidikan adalah proses memanusiakan peserta didik. Pendidikan adalah proses pembelajaran dimana peserta didik belajar sebagai manusia untuk mengenali potensi dirinya dan mengembangkannya. Pendidikan adalah proses pembelajaran untuk menyiapkan peserta didik mampu menggunakan kompetensinya secara mandiri di masa depan, bahkan saat sudah tidak berinteraksi lagi dengan pendidik. 


Di dalam proses pendidikan, pendidik mengajari peserta didik untuk bagaimana mengidentifikasi potensi kemampuan dalam dirinya. Setelah proses mengidentifikasi potensi diri terjadi, pendidik mendorong, memotivasi, menginspirasi, mensupport, memfasilitasi dan memberikan contoh nyata bagaimana mengembangkan potensi diri menjadi kompetensi yang maksimal. Aktivitas-aktivitas pendidik tersebut merupakan lingkup aktivitas mendidik. 


Seorang pendidik bukan hanya seorang pengajar, tapi juga seorang motivator, fasilitator, inspirator, tokoh idola, contoh keteladanan, dan role model bagi peserta didik. Jadi sekarang pendidik tidak hanya harus bisa mengajar, tapi juga harus bisa memperlakukan peserta didik sebagai seorang anak yang unik dan istimewa dengan segala keunikan potensi diri yang dimilikinya. 


Peserta didik merupakan subjek pembelajar. Adapun pendidik seharusnya seseorang yang memiliki pengalaman hidup yang matang sehingga mampu memberikan contoh sikap dan perilaku yang baik. Seorang pendidik harus mampu menilai kemajuan hasil belajar menyeluruh terkait perkembangan potensi diri peserta didiknya, yang saat ini direduksi menjadi hasil belajar kognitif saja. 


Kondisi tersebut menjadikan proses pendidikan kurang humanis karena proses pendidikan hanya sebatas aktivitas mekanis saja. Ketika peserta didik sudah mampu mengerjakan soal tes kemampuan kognitif,  maka dianggap sudah kompeten. Padahal kemampuan peserta didik yang lain belum dilakukan asesmen. Terlebih dengan adanya asumsi bahwa semakin cepat lulus berarti peserta didik semakin berprestasi membuat proses pendidikan semakin jauh dari nilai-nilai humanis. Asumsi ini mengabaikan konsep mastery learning yang menyatakan bahwa pada dasarnya semua peserta didik pasti mampu menuntaskan proses belajarnya sesuai standar yang ditetapkan, tetapi kecepatan masing-masing peserta didik berbeda-beda.


Sistem pendidikan yang humanis adalah sistem pendidikan yang mampu mengakomodir perbedaan kecepatan belajar peserta didik tersebut. Kesuksesan peserta didik sebagai hasil dari menjalani proses pendidikan hakikatnya bukan ditentukan dari seberapa cepat mereka lulus dan seberapa tinggi prestasi hasil belajarnya, tetapi diukur dari seberapa mampu mereka mengimplementasikan pengalaman belajarnya untuk menyelesaikan persoalan di kehidupan nyata sehingga mereka dapat eksis dan survive di masa depan. Sudah banyak bukti orang-orang besar yang sukses di masa depannya, padahal mereka awalnya dulu dianggap tidak akan sukses karena lambatnya dalam menjalani proses pendidikan. Tetapi karena mereka mampu menjalani proses pendidikan yang baik dengan didukung usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras, akhirnya mereka bisa menjadi orang-orang yang sukses. 


Sebagai penutup artikel pendek ini, mari kita renungkan pertanyaan berikut ini. "Mengapa peserta didik yang cepat lulus pendidikan dan memiliki prestasi belajar sangat tinggi tidak menjamin hidupnya pasti sukses, padahal ia sudah menunjukkan bahwa ia orang yang hebat dan berprestasi?". 


Kondisi tersebut mungkin bukan karena kesalahan peserta didik, tetapi mungkin barangkali disebabkan oleh kesalahan dari sistem pendidikan saat ini yang kurang mengakomodasi kondisi real kehidupan. Ketika peserta didik menjalani proses pendidikannya, ia belum menjalani simulasi proses kehidupan yang sesungguhnya karena ia baru hanya menjalani simulasi sebagian kecil proses kehidupan, yaitu proses kehidupan terkait menggunakan kemampuan kognitif saja. []


Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026



Gumpang Baru, 2 Mei 2026

 

Postingan Populer