Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Januari 2026

MEMBAWA MUKENA

Catatan Inspirasi (62)



MEMBAWA MUKENA

Oleh:
Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.





Pendidikan karakter religius harus diajarkan sejak anak masih kecil. Melalui latihan dan pembiasaan sejak kecil, anak akan terbiasa mengerjakan kewajiban ibadah. Poin penting dalam mengajarkan pendidikan karakter, khususnya karakter religius adalah pembiasaan dengan melatihkan nilai-nilai karakter baik sehingga anak akan terbiasa melakukan secara refleks dan tidak merasa berat atau bosan melakukannya.

Terkait ibadah sholat, kami mengajarkan kepada putri kecil kami dengan melakukan beberapa tahapan. Tahap pertama adalah kami memfasilitasi putri kecil kami melihat secara langsung keluarganya mengerjakan sholat fardhu setiap hari.

Tahap kedua adalah kami mengajak putri kecil kami untuk ikut sholat, walaupun masih sambil bermain-main. Tahap ketiga adalah kami membelikan putri kecil kami sajadah dan mukena khusus untuk dia dengan memilihkan warna kesukaannya.

Tahap keempat adalah memonitoring pengamalan ibadah dengan cara selalu bertanya sudah sholat atau belum. Tahap kelima adalah melatih membiasakan mengerjakan sholat lima waktu secara rutin setiap hari. Tahap keenam adalah melatihkan anak ikut mengerjakan ibadah sunah dengan rutin memberikan contoh keteladanan.

Hasil dari program pendidikan karakter religius yang kami ajarkan kepada putri kecil kami, sekarang sudah mulai terlihat hasilnya. Kami bahagia sekali dengan kemajuan perilaku yang ditunjukkan oleh putri kecil kami. Putri kecil kami telah menunjukkan perubahan sikap dan perilaku yang sangat positif.

Terkait pengamalan ibadah sholat fardhu, putri kecil kami telah menjadikan ibadah sholat fardhu sebagai aktivitas harian. Dan kami memang terus memonitor aktivitas sholat putri kecil kami. Setiap kali saya pulang dari kampus, saya selalu menanyakan apakah adek sudah sholat atau belum. Terkadang dia jawab belum sholat dan kebetulan saya juga belum sholat, maka kami sholat berjamaah.

Karena putri kecil kami sudah rutin mengerjakan sholat fardhu, maka sekarang kemanapun kami pergi, dia saya sarankan untuk membawa mukena untuk berjaga-jaga jika harus sholat di perjalanan atau di tempat tujuan.

Seperti hari ini, kami akan pergi ke mall terdekat untuk membelikan sabun mandi si kecil yang mau habis. Karena waktu sebentar lagi masuk waktu sholat Dhuhur, maka kami berangkat dari rumah setelah sholat dhuhur. Sebelum berangkat, si kecil bertanya perlu bawa mukena atau tidak. Saya jawab bawa saja untuk jaga-jaga kalau di mall sampai masuk waktu sholat Ashar. Ternyata benar, karena selain beli sabun mandi dan kebutuhan rumah, si kecil juga ingin main di Kids Fun dan makan. Maka kami keluar dari mall sudah masuk waktu Ashar. Si kecil bertanya ke saya, "Papi, kita sholat di sini atau di rumah?" Saya jawab, "Kita sholat di sini saja". Maka kami pun mengambil mukena si kecil dan pergi ke masjid di mall.

Karena istri kebetulan sedang tidak sholat, maka si kecil sholat sendirian di shaf jamaah putri. Istri mengantarnya mengambil air wudhu kemudian mengawasi si kecil sholat sendiri dari luar masjid. Terlihat si kecil dengan tenang mengerjakan sholat Ashar empat rakaat dengan khusyuk. Dia tidak malu atau takut untuk sholat sendirian di masjid.

Demikian proses pendidikan karakter religius yang kami ajarkan ke putri kecil kami sejak dia masih kecil. Melalui pemberian contoh keteladanan dan pembiasaan setiap harinya, sekarang putri kecil kami sudah terbiasa mengerjakan sholat fardhu. Kami bersyukur, program pendidikan karakter religius yang kami jalankan telah mulai menunjukkan hasil yang positif. Kami berharap dan berdoa semoga putri kecil kami tetap istikamah dalam menjalankan ibadahnya. Amin. []

Sabtu, 27 Desember 2025

RENUNGAN AKHIR TAHUN 2025

Catatan Inspirasi (133)

RENUNGAN AKHIR TAHUN 2025

Oleh:
Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.



Waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Tidak terasa tubuh semakin tua dan kehilangan kekuatannya. Manusia tidak bisa menghindarkan diri dari usia tua. Usia memang semakin tua, tetapi semangat menatap masa depan boleh tetap muda.


Setiap datang pergantian tahun, banyak orang melakukan renungan selama satu tahun yang telah dijalani. Aktivitas merenungkan perjalanan hidup selama satu tahun terakhir merupakan kegiatan yang positif. Jika dilakukan rutin setiap akhir tahun, akan membuahkan sikap hidup yang positif. 


Saat melakukan proses kontemplasi atau perenungan, seseorang tidak hanya sekedar mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukan selama satu tahun ini. Tetapi juga melakukan proses evaluasi dan refleksi diri apakah yang sudah dilakukan telah sesuai dengan yang direncanakan.


Apakah yang dilakukan selama ini memberikan dampak positif bagi diri dan orang lain? Apakah resolusi hidup yang dicanangkan di awal tahun telah terlaksana semua? Apakah ada yang perlu diperbaiki atau dilanjutkan di tahun berikutnya? Resolusi apa lagi yang perlu dirancang untuk kegiatan satu tahun ke depan? Dan lain pertanyaan yang bisa menjadi bahan renungan akhir tahun.


Resolusi saya dulu di awal tahun 2025 cukup sederhana, yaitu semakin sehat dan dapat menyelesaikan studi doktoral yang sudah beberapa tahun saya jalani. Karena histori kesehatan saya yang kurang baik di beberapa tahun sebelumnya, bahkan harus menjalani tindakan operasi setiap tahunnya, menjadi pertimbangan saya untuk memfokuskan diri pada kesehatan. Yang kedua fokus saya di tahun 2025 adalah menyelesaikan studi doktoral saya yang cukup lama terkendala masalah kesehatan. Dua resolusi hidup tersebut Alhamdulillah dapat terealisasi di tahun 2025 ini, walaupun tidak sempurna. 


Resolusi hidup di tahun 2025 untuk fokus ke kesehatan tubuh coba saya usahakan dengan berusaha menjaga pola hidup sehat. Saya berusaha melakukan olah raga ringan, menjaga pola makan yang sehat, istirahat yang cukup, dan menjaga keseimbangan fisik dan psikis. Walaupun tidak mudah untuk menjalankan itu semua, saya berusaha melakukan semampunya. 


Selama tahun 2025 kondisi kesehatan saya belum pulih seratus persen. Tubuh saya masih sering merasakan kondisi tubuh yang tidak nyaman. Program rutin kontrol ke dokter RS juga masih saya jalani. Rutin minum obat dari dokter juga masih saya jalani.Tubuh tiba-tiba kurang enak dan tidak fit juga masih sering terjadi. Tetapi saya tetap terus berusaha meningkatkan kesehatan fisik saya. 


Alhamdulillah di tahun 2025 ini saya tidak sampai masuk ke ruang operasi untuk tindakan operasi sebagaimana yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 2021 hingga 2024. Walaupun dokter yang menangani saya pernah memberikan opsi atau rekomendasi untuk melakukan tindakan operasi jika keluhan sakit saya tidak kunjung sembuh. Tetapi saya lebih memilih untuk tidak menjalani operasi dulu dan lebih fokus ke penyembuhan melalui obat. Keputusan tersebut saya ambil karena masih traumatik dengan tindakan operasi dimana setiap tahun saya menjalani tindakan operasi dan bahkan pernah gagal. Tidak masuk ruang operasi atau menjalani rawat inap di rumah sakit menjadi indikator ketercapaian resolusi hidup saya yang pertama. 


Resolusi hidup saya tahun 2025 yang kedua untuk menyelesaikan studi doktoral alhamdulillah juga terealisasi dengan menjalani ujian sidang terbuka promosi doktor pada tanggal 23 Juli 2025 yang bersamaan dengan perayaan hari ulang tahun saya ke-48 dan perayaan hari ulang tahun pernikahan yang ke-19. 


Walaupun lulus tidak dengan predikat cumlaude karena masa studi yang tidak memenuhi kriteria-walaupun nilai IPK memenuhi kriteria cumlaude, saya tetap sangat bersyukur. Bagi saya bisa lulus studi doktoral dan menyandang gelar doktor adalah sebuah karunia Allah SWT yang sangat besar sekali. Dengan melihat kondisi kesehatan saya yang kurang baik selama beberapa tahun terakhir ini, maka bisa lulus doktor adalah lebih dari cukup untuk bersyukur. 


Selain menjalankan dua resolusi hidup awal tahun 2025, dalam perjalanannya saya menambahkan satu janji hidup dalam diri saya untuk fokus ke keluarga. Saya ingin bisa membahagiakan istri tercinta yang telah bertahun-tahun saya repotin untuk merawat saya saat sakit. Saya juga ingin lebih punya banyak waktu untuk mendampingi anak-anak tumbuh dan berkembang secara optimal. 


Di tahun 2026 nanti, saya akan meneruskan resolusi hidup untuk fokus membahagiakan istri, mendampingi tumbuh kembang anak-anak, dan kembali aktif dan produktif menulis karya-karya inovatif yang sempat terkendala karena fokus ke pemulihan kesehatan dan menulis disertasi. Semoga Allah SWT meridhoi dan memudahkan perjalanan jalan hidup saya di tahun depan. Amin. []


Gumpang Baru, 26 Desember 2025

BISA KARENA TERBIASA

Catatan Inspirasi (134)


Gambar Si Kecil Icha Belajar Menirukan Membaca Al-Qur'an


BISA KARENA TERBIASA 

Oleh:
Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.



Anak kecil itu bagaikan spons yang memorinya sangat kuat menyerap informasi apapun. Dia juga memiliki kemampuan meniru (mengimitasi) apapun yang dilihatnya dengan sangat baik. Oleh karena itu, anak kecil harus dibiasakan melihat hal-hal yang baik agar ia menyerap hal-hal baik sebanyak mungkin. Dengan kata lain, anak kecil sebaiknya berada di lingkungan yang baik agar memorinya berisi hal-hal yang baik. 


Anak kecil belum memiliki kemampuan menilai dan membedakan hal baik dan hal buruk. Ia akan menyerap dan meniru apapun yang dilihatnya. Ketika ia berada di lingkungan yang baik, maka ia akan menyerap hal-hal yang baik juga. Dan sebaliknya jika ada berada di lingkungan yang buruk, maka ia akan menyerap hal-hal yang buruk juga. Baik atau buruknya karakter anak akan sangat dipengaruhi lingkungan kehidupannya sehari-hari. 


Membentuk anak yang memiliki karakter baik (good character) tidak cukup hanya dengan mengajarkan nilai-nilai karakter baik kepada anak. Anak tidak cukup dikenalkan dengan nilai-nilai karakter baik untuk membentuknya berkarakter baik. 


Pemberian informasi (pengajaran) tentang nilai-nilai karakter baik kepada anak tidak akan berdampak signifikan bilamana tidak diikuti dengan pemberian contoh nyata dan pelibatan anak secara langsung dalam proses pengajarannya. Walaupun anak adalah penyerap informasi yang sangat kuat dan peniru (pengimitasi) perilaku yang sangat ahli, tanpa dukungan penyediaan role model atau contoh keteladanan, maka hasilnya akan kurang maksimal. 


Pengajaran nilai-nilai karakter baik harus diikuti dengan proses internalisasi nilai-nilai karakter baik dalam diri anak. Proses internalisasi nilai-nilai karakter baik ke dalam diri anak sehingga menyatu membentuk kepribadian hanya mungkin terjadi jika anak dilibatkan langsung dalam proses pendidikan karakter dan didukung dengan pemberian contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. 


Proses internalisasi nilai-nilai karakter baik ke anak melalui program pendidikan karakter sangat baik jika dimulai dari lingkungan keluarga. Aktor yang menjadi role model atau contoh keteladanan berkarakter baik adalah orang tua sendiri. Dengan demikian, anak setiap hari akan berinteraksi atau terlibat langsung dalam proses pendidikan dan melihat langsung contoh nyata implementasi nilai-nilai karakter baik yang ditunjukkan oleh orang tuanya. 


Di keluarga, kami juga mencoba menanamkan nilai-nilai karakter baik kepada anak-anak sejak mereka masih kecil. Ketika anak-anak masih kecil, mereka kami ajak terlibat langsung dalam proses implementasi nilai-nilai karakter baik dimana kami orang tua langsung menjadi contohnya. Dengan melibatkan mereka dalam praktek baik implementasi nilai-nilai karakter baik dalam kehidupan sehari-hari, kami berharap anak-anak akan mengimitasi sikap dan perilaku orang tuanya. 


Sebagai contoh dalam mengajarkan nilai-nilai religius seperti ibadah sholat, kami mengajak anak-anak untuk ikut mengerjakannya. Walaupun awalnya mereka belum bisa, lama kelamaan akhirnya mereka bisa mengerjakan dengan cara mengimitasi apa yang dilakukan orang tuanya. Akhirnya anak-anak biasa mengerjakan sholat fardhu lima waktu. 


Tidak berhenti hanya mengajarkan sholat fardhu, kami juga mengajarkan anak-anak untuk mengerjakan sholat sunnah setelah sholat fardhu. Kami latih anak-anak untuk mengerjakan sholat sunnah bakda Maghrib, sholat sunnah bakda isya, sholat witir, dan sholat sunnah bakda dhuhur. 


Anak-anak ketika kecil belum mengetahui apa yang dimaksud dengan sholat fardhu dan sholat sunnah. Mereka tahunya kalau setelah sholat Maghrib ditambah sholat dua rakaat, sholat Isyak ditambah sholat dua rakaat (sholat Sunnah bakda isya) dan sholat satu rakaat (sholat witir), dan setelah sholat dhuhur ditambah sholat dua rakaat (sholat Sunnah bakda dhuhur). Tambahan sholat-sholat tersebut dilakukan setelah membaca dzikir dan berdoa. Jadi untuk ketiga jenis sholat fardhu tersebut, anak-anak tahunya mengerjakan paket sholat fardhu, membaca dzikir, berdoa, dan mengerjakan sholat tambahan. 


Setelah anak-anak sekolah dan mendapatkan pelajaran agama Islam tentang sholat, barulah mereka mengetahui tentang sholat sunnah. Pemahaman mereka tentang hukum sholat sunnah tidak mengubah aktivitas ibadah mereka, baik secara kualitas maupun kuantitas. 


Setelah mengetahui bahwa sholat tambahan setelah sholat fardhu adalah hukumnya hanya sunnah atau tidak wajib, mereka tidak kemudian meninggalkannya. Mereka tetap mengerjakan sholat sunnah karena mereka sudah terbiasa sejak kecil mengerjakannya. Mereka bisa disiplin mengerjakan ibadah sholat Sunnah setelah sholat fardhu karena mereka sudah terbiasa mengerjakannya tanpa merasa berat. Jadi mereka bisa karena sudah biasa mengerjakannya. Pengetahuan ilmu agama mereka tidak mengurangi kualitas dan kuantitas aktivitas ibadah mereka. 


Demikian pula dengan aktivitas keluarga kami mengaji Al-Qur'an (membaca Al-Qur'an) yang biasa  kami lakukan setiap selesai sholat Maghrib. Anak-anak sudah biasa atau otomatis bahwa setiap kali selesai mengerjakan sholat Magrib dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an. Alhamdulillah kami bersyukur metode pendidikan karakter yang kami programkan untuk anak-anak di keluarga kami dapat berhasil dengan baik. 


Kami akan terus berusaha melatihkan dan membiasakan aktivitas ibadah sunnah yang lain untuk anak-anak di kehidupan keluarga kami. Kami meyakini bahwa niat baik kami untuk membekali anak-anak kami dengan bekal pendidikan karakter baik akan berdampak positif bagi perkembangan kepribadian mereka kelak saat dewasa. Saya dan istri saling bahu membahu dan saling mendukung untuk kesuksesan program pendidikan karakter baik yang menjadi visi misi di kehidupan keluarga kami. Kami percaya bahwa anak-anak akan bisa jika mereka sudah biasa melakukannya. Di situlah urgensi kami sebagai orang tua untuk menjadi role model bagi mereka. []


Gumpang Baru, 27 Desember 2025

Kamis, 11 Desember 2025

URGENSI PENDIDIKAN KELUARGA

Catatan Inspirasi (125)


URGENSI PENDIDIKAN KELUARGA

Oleh:
Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.




Setiap orang tua pasti menginginkan anak keturunan mereka menjadi sosok pribadi yang kuat, tangguh, dan sukses. Tidak ada orang tua yang ingin anak-anaknya menjadi lemah dan tidak mandiri. Oleh karena itu, setiap orang tua akan berusaha mendidik anak-anaknya menjadi siap menghadapi kehidupan masa depan.

Anak adalah amanah, demikian yang saya pahami. Anak bukanlah investasi orang tua yang kelak dapat dipanen hasilnya. Anak adalah makhluk Tuhan dengan segala potensi diri dan keistimewaannya. Anak akan tumbuh dan berkembang sesuai blueprint yang ditetapkan Tuhannya. Orang tua tidak berhak mengubah blueprint yang sudah tertanam dalam diri anaknya hanya karena merasa punya wewenang atas kehidupan anaknya.

Orang tua adalah orang yang dipilih Tuhan untuk menjadi tangan kanan-Nya untuk merawat, memelihara, melindungi dan mendidik anak-anak yang dititipkan-Nya. Tuhan telah membekali setiap anak yang dititipkan ke orang tua dengan bekal potensi diri yang masih tersembunyi dalam diri mereka.

Anak-anak belum mampu mengenali bekal potensi diri mereka. Anak-anak memerlukan bantuan orang dewasa dan lingkungan sekitarnya untuk membantunya mengenali potensi dirinya dan mengembangkannya. Anak-anak memerlukan lingkungan yang kondusif bagi proses belajarnya mengungkap potensi dirinya. Maka tugas orang tua lah untuk menyediakan lingkungan yang tepat dan memfasilitasi anak-anak tumbuh berkembang dengan optimal.

Orang tua yang baik adalah orang tua yang mampu memfasilitasi proses tumbuh kembang anak-anaknya dengan baik. Orang tua yang hebat adalah orang tua yang mampu memotivasi anak-anak mereka tumbuh dan berkembang secara maksimal. Orang tua yang sukses adalah orang tua yang mampu menginspirasi anak-anak mereka mengembangkan potensi dirinya dengan maksimal.

Orang tua memang menjadi contoh tauladan bagi anak-anaknya. Tetapi anak-anak tidak harus sama dengan orang tuanya. Yang terpenting adalah mereka dapat menjadi diri mereka sendiri dan mampu mengembangkan potensi dirinya secara maksimal. Karena setiap anak adalah istimewa dan unik.

Orang tua adalah guru kehidupan pertama bagi anak-anaknya. Anak-anak adalah cerminan dari orang tuanya. Kesuksesan anak adalah kesuksesan orang tua. Kegagalan anak adalah kegagalan orang tua. Hasil didikan orang tua dalam kehidupan anak akan terlihat dari bagaimana kehidupan anak-anak kelak. Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap orang tua memberikan lingkungan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya agar mereka dapat mengenali Tuhannya dan mengenali potensi diri mereka sendiri. []


Gumpang Baru, 09 Desember 2025

Selasa, 09 Desember 2025

JUARA 1 LOMBA OLIMPIADE MATEMATIKA

Catatan Inspirasi (123)


JUARA 1 LOMBA OLIMPIADE MATEMATIKA

Oleh:
Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.




Hari ini Sabtu tanggal 6 Desember 2025 sehabis putri kecil kami yang bernama Aisyah Izzatunnisa Putri Nugroho atau biasa dipanggil Icha pulang sekolah, kami mengantar dia ke Assalam Hypermarket untuk mengikuti lomba olimpiade Matematika.

Sudah seminggu ini di kecil Icha ingin ikut lomba Matematika. Karena kesibukan di kampus, hari Jumat istri mengingatkan kembali untuk mendaftarkan si kecil Icha ikut lomba Matematika di Assalam Hypermarket.

Akhirnya di Jumat siang setelah selesai mengajar, saya mendaftarkan si kecil Icha ikut lomba Matematika tersebut dengan menghubungi nomor panitia lomba.

Pulang dari kampus, sampai di rumah si kecil Icha langsung bertanya apakah sudah didaftarkan ikut lomba Matematika besok Sabtu. Setelah saya jawab sudah, dia tampak senang sekali. Si kecil Icha memang terlihat semangat sekali untuk mengikuti lomba olimpiade matematika tersebut.

Setelah proses lomba matematika selesai, beberapa waktu kemudian panitia lomba mengumumkan hasil lomba. Alhamdulillah si kecil Icha mendapatkan medali dan piala juara 1. Selamat ya dek Icha !

URGENSI TUJUAN KELUARGA

Catatan Inspirasi (124)


URGENSI TUJUAN KELUARGA

Oleh:
Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.




Setiap manusia yang terlahir ke dunia ini merupakan makhluk sosial. Manusia dalam kehidupannya membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Manusia membutuhkan bantuan manusia lain. Hal itu dikarenakan manusia adalah makhluk yang memiliki kelemahan, sekaligus juga memiliki kelebihan. Inilah keunikan dari manusia.

Setiap orang adalah unik dan istimewa. Setiap orang memiliki kelemahan sekaligus juga memiliki kelebihan. Kelemahan yang dimiliki seseorang akan dilengkapi dengan kelebihan orang lain. Demikian pula kelebihan seseorang juga akan menjadi solusi atas kekurangan atau kelemahan orang lain. Demikianlah Tuhan menjaga keseimbangan kehidupan manusia di dunia ini.

Tuhan tidak menciptakan manusia super yang tanpa kelemahan sedikitpun sehingga bisa memenuhi segala kebutuhan hidupnya sendiri. Tetapi Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang lemah sehingga membutuhkan bantuan manusia lain. Dengan fitrah manusia yang lemah tersebut, mendorong manusia untuk berinteraksi dengan manusia yang lain. Dengan demikian, dalam kehidupan di dunia ini manusia saling membutuhkan satu sama lain.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia saling berinteraksi dan membentuk komunitas atau kelompok. Dengan membentuk kelompok, manusia lebih mudah dalam berinteraksi dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Di dalam kelompok yang memiliki tujuan dan visi-misi yang sama, anggota kelompok saling membantu satu sama lain.

Keluarga adalah tipe kelompok sosial yang paling kecil. Keluarga memiliki tujuan dan visi misi yang satu. Semua anggota keluarga harus mendukung ketercapaian visi misi keluarga. Anggota keluarga membantu satu sama lain untuk mewujudkan tujuan keluarga. Tujuan keluarga termanifestasi menjadi tujuan setiap anggota keluarga.

Sebagai misal, sebuah keluarga memiliki visi misi membentuk keluarga yang sukses. Maka orang tua akan berusaha menyiapkan anak-anak mereka bisa menjadi orang sukses dengan menyediakan lingkungan keluarga yang kondusif dan mendukung anak-anak mereka tumbuh berkembang menjadi orang sukses.

Upaya orang tua untuk mewujudkan visi misi keluarga perlu didukung oleh anak-anak. Jika anak-anak mendukung visi misi keluarga dengan berusaha mewujudkan ketercapaian visi misi keluarganya, maka tujuan dirinya dan tujuan keluarganya dapat terwujud. Sebaliknya jika anak tidak mendukung tercapainya visi misi keluarga dengan tidak berusaha menjadi orang sukses, maka tujuan keluarganya tidak dapat tercapai dan dia sendiri akan menjadi orang yang gagal dalam kehidupannya.

Demikianlah idealnya dalam sebuah keluarga. Sebuah keluarga harus memiliki visi misi jangka panjang yang dirumuskan bersama. Setiap anggota keluarga harus mempunyai rasa memiliki dan kepedulian terhadap visi misi keluarga. Orang tua harus peduli dengan masa depan anak-anaknya. Anak-anak harus mendukung visi misi jangka panjang keluarganya untuk masa depan mereka yang telah dirumuskan oleh orang tuanya. Dengan saling mendukung dan bahu membahu antara orang tua dan anak-anak, maka tujuan besar keluarga akan dapat tercapai dengan gemilang. InsyaAllah. []


Gumpang Baru, 07 Desember 2025

Jumat, 28 November 2025

MEDALI PERUNGGU OLIMPIADE SAINS INTERNASIONAL

 Catatan Inspirasi (121)


MEDALI PERUNGGU OLIMPIADE SAINS INTERNASIONAL

Oleh:
Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.



Awalnya putri kecil kami yang bernama Aisyah Izzatunnisa Putri Nugroho atau biasa dipanggil Icha senang melakukan aktivitas menggambar dan mewarnai. Dia sering melihat video-video di YouTube tentang bagaimana membuat warna degradasi. Dia serius belajar dan berlatih bagaimana mewarnai gambar yang bagus. 


Untuk mengaktualisasikan kemampuannya dalam mewarnai gambar, dia sering ikut lomba mewarnai. Beberapa kali si kecil Icha mengikuti lomba mewarnai gambar tetapi belum pernah menang menjadi juara. Padahal dia ingin sekali bisa menang menjadi juara dan mendapatkan piala juara.


Untuk menjaga semangatnya mendapatkan piala juara lomba dan mengantisipasi kekecewaan berlebihan yang bisa menurunkan semangatnya, maka kami menawarkan dia untuk mengikuti lomba olimpiade sains. Awalnya dia kurang suka karena merasa tidak mampu. Tetapi setelah kami memotivasinya dengan mengatakan bahwa adek pasti bisa karena adek sering rangking satu di kelas, akhirnya dia mau mengikuti lomba olimpiade sains tingkat nasional secara online. 


Pengalaman pertama mengikuti lomba olimpiade sains tingkat nasional bidang bahasa Inggris dan matematika, dia mendapat juara 1 bidang Bahasa Inggris dan juara 2 bidang Matematika. Si kecil Icha senang sekali bisa menang lomba dan mendapatkan piala lomba pertamanya.


Setelah mendapatkan piala juara pertama tersebut, si kecil Icha kemudian sering mengikuti lomba olimpiade sains tingkat nasional rutin setiap bulan. Selama sekitar sepuluh bulan terakhir ini, dia telah memenangkan puluhan lomba olimpiade sains tingkat nasional dengan jumlah piala dan medali mencapai 39 buah. 


Karena sudah sering mengikuti lomba olimpiade sains tingkat nasional dan si kecil Icha telah membuktikan dapat menjadi juara, maka di bulan Oktober 2025 kemarin, kami mencoba mengikutkan si kecil Icha untuk mengikuti lomba olimpiade sains tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu tingkat internasional. 


Kami ingin putri kecil kami Icha tidak hanya mengenal soal-soal olimpiade tingkat nasional saja, tetapi juga mulai mengenal soal-soal olimpiade tingkat internasional yang pastinya jauh lebih sulit lagi. Dengan mengikuti lomba olimpiade sains tingkat internasional tersebut, kami ingin si kecil Icha bisa naik level kemampuannya dalam memecahkan soal-soal sains dari level nasional menjadi level internasional. 


Di bulan Oktober 2025 kemarin putri kecil kami Icha mengikuti lomba olimpiade sains tingkat internasional di acara "International Kangaroo Science Contest (IKSC) 2025". Kualitas soal di lomba olimpiade sains tingkat internasional memang jauh lebih sulit dan lebih menantang di bandingkan soal olimpiade sains tingkat nasional. Soal-soal di lomba olimpiade sains tingkat internasional juga merupakan soal-soal IPA terpadu yang menuntut kemampuan siswa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills, HOTS) untuk mengerjakannya. 


International Kangaroo Science Contest 2025 merupakan lomba olimpiade sains tingkat internasional yang pertama kali diikuti oleh putri kecil kami Icha. Jadi lomba tersebut merupakan pengalaman pertama kali bagi putri kecil kami Icha yang saat ini masih duduk di kelas 2 SDIT Muhammadiyah Al-Kautsar Gumpang Kartasura mengikuti kompetisi sains level internasional. 


Saat pengumuman hasil lomba International Kangaroo Science Contest (IKSC) 2025, alhamdulillah putri kecil kami Icha bisa mendapatkan juara medali perunggu. Kami sangat bangga dan bersyukur dengan pencapaian prestasi si kecil Icha. Untuk pengalaman pertama ikut lomba tingkat internasional dan mendapatkan medali perunggu adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Capaian prestasi yang membanggakan ini bisa menjadi motivasi untuk di kecil Icha untuk terus semangat belajar dan meningkatkan prestasinya lebih baik lagi ke depannya. 


Selamat dek Icha atas prestasinya mendapatkan medali perunggu di lomba olimpiade sains tingkat internasional "International Kangaroo Science Contest 2025". Tetap semangat belajar, bermain dan mencetak prestasi 👍👍

Jumat, 07 November 2025

SI KECIL ICHA MENULIS BUKU

Catatan Inspirasi (110)



SI KECIL ICHA MENULIS BUKU

Oleh:
Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.


Di kehidupan keluarga, saya berusaha mendekatkan anak-anak dengan buku sejak mereka masih kecil. Makanya di rumah saya membuatkan perpustakaan keluarga yang berisi banyak buku berbagai genre. Harapan saya adalah anak-anak dapat suka membaca buku. Dan bahkan tertarik untuk menulis buku. 


Usaha saya untuk membuat anak pertama menyukai buku ternyata kurang berhasil. Si kakak ternyata kurang menyukai buku. Dia lebih suka belajar dengan cara menonton video di YouTube. Dia juga lebih suka melakukan aktivitas berkaitan editing video. Oleh karena itu, sekarang dia melanjutkan kuliah di jurusan TV dan Perfilman di kampus ISI Surakarta. Walaupun bidang studi yang ditekuni si kakak tidak berkaitan dengan sains yang menjadi bidang keahlian papinya, saya tetap mendukung pilihannya dan selalu memotivasi dia agar bisa berprestasi. 


Tidak berputus asa dengan pilihan si kakak yang tidak sesuai harapan,  hal yang sama saya lakukan kepada si kecil Icha. Sejak kecil saya mendekatkan dia dengan buku. Saya belikan buku-buku cerita anak-anak untuk dia. Sejak kecil saya ajak si kecil Icha untuk melihat-lihat buku cerita bergambar. 


Sekarang si kecil Icha sudah duduk di bangku SD kelas 2. Dia sudah cukup lancar dalam membaca buku. Dan dia mulai menunjukkan ketertarikannya pada buku. Dia mulai senang membaca buku. Dan dia juga mulai senang mengoleksi buku. 


Beberapa waktu lalu, si kecil Icha melihat-lihat koleksi buku papinya yang berjejer ternyata rapi di rak-rak buku. Dan dia menemukan beberapa buku cerita anak-anak. Dia tertarik ingin memiliki buku-buku tersebut dan meminta izin papinya untuk memindahkan buku-buku tersebut ke kamarnya sendiri. Setelah saya izinkan dan perbolehkan untuk memindahkan buku-buku tersebut ke kamar, dia tampak senang sekali. Sore itu si kecil Icha memindahkan sekitar seratusan judul buku ke kamarnya. Papinya membantunya menata buku-buku tersebut di rak meja belajarnya. 


Hari berikutnya si kecil Icha kembali melihat-lihat dan membuka-buka buku koleksi papinya. Ternyata dia belum puas memiliki seratusan judul buku. Memang di hari sebelumnya dia belum selesai mengecek semua rak buku papinya. Akhirnya hari itu si kecil Icha kembali memindahkan seratusan judul buku ke kamarnya. Papinya kembali membantu menata koleksi buku-buku si kecil Icha. 


Setiap hari si kecil Icha membuka buku-buku yang masih terbungkus plastik dan membacanya. Dia mulai senang membaca buku-buku baru. Ketika membaca buku, tidak lupa saya tunjukan profil penulisnya. Dia baru tahu ternyata buku yang dibacanya adalah karya anak SD. Dari kejadian tersebut akhirnya dia juga ingin bisa menulis buku. 


Sore kemarin, si kecil Icha mulai belajar menulis cerita. Dia berkata mau menulis buku yang tebalnya 205 halaman ☺️.  Awalnya dia berkata, "Adek bingung bagaimana cara menulisnya karena adek belum bisa mengetik dengan komputer". Lalu saya jawab, "Adek menulis di buku saja dulu, nanti papi dan mami yang mengetiknya di komputer". Maka sore itu, si kecil Icha sibuk menulis cerita pertamanya yang berjudul "Susu yang enak dan segar". Tidak lupa ia membuat gambar ilustrasi untuk tulisan cerita pertamanya tersebut. 


Selamat menulis bukunya ya dek Icha. Terus semangat membaca dan menulis buku. Membaca buku akan membuat kita mengenal dunia. Tetapi menulis buku akan membuat kita dikenal dunia. Sukses selalu dek Icha. Doa papi dan mami selalu menyertaimu. We love you so much 😍


Gumpang Baru, 08 November 2025

Minggu, 02 November 2025

ANAK SEBAGAI AMANAH, BUKAN INVESTASI

Catatan Inspirasi (107)


ANAK SEBAGAI AMANAH, BUKAN INVESTASI

Oleh:
Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.



PENDAHULUAN
Setiap orang pasti menginginkan memiliki keturunan, anak yang akan melanjutkan garis keturunannya, anak yang akan membesarkan nama keluarganya. Kehadiran seorang anak akan mampu menjadikan kehidupan keluarga menjadi lebih hidup dan dipenuhi aura kebahagiaan. Kehadiran anak yang telah lama dinanti-nantikan pasti akan mampu mengubah suasana kehidupan dalam keluarga menjadi penuh keceriaan dan canda tawa kebahagiaan.
Anak memang menjadi salah satu perhiasan dunia. Keberadaan anak dalam sebuah keluarga akan mampu mengubah suasana keluarga yang tadinya sepi membosankan menjadi ramai penuh kebahagiaan. Melalui tingkah lakunya yang lucu menggemaskan, siapapun yang melihatnya pasti merasakan hati yang bahagia. Inilah misteri kebahagian melalui kelahiran seorang anak dalam sebuah keluarga.
Bagaimana sikap dan cara orang tua memperlakukan anak-anaknya sangat dipengaruhi oleh bagaimana pandangan mereka terhadap anak. Keberadaan anak bagi orang tua apakah sebagai subjek ataukah objek akan sangat mempengaruhi bagaimana perlakuan mereka kepada anak-anaknya. Masa depan anak akan sangat dipengaruhi oleh pandangan kedua orang tuanya.


PANDANGAN ORANG TUA TERHADAP KEDUDUKAN ANAK DALAM KELUARGA
Keberadaan anak bagi orang tua memiliki arti khusus. Secara umum, terdapat dua pandangan orang tua tentang bagaimana memposisikan anak. Pandangan pertama menganggap bahwa anak adalah amanah dari Allah Swt. Pandangan pertama ini menempatkan anak sebagai subjek, yaitu anak sebagai pelaku kehidupan yang dijalaninya. Sedangkan pandangan kedua beranggapan bahwa anak adalah investasi jangka panjang bagi orang tuanya. Pandangan kedua ini menempatkan anak sebagai objek, yaitu anak sebagai alat bagi orang tua untuk memperoleh keuntungan, baik keuntungan finansial ataupun keuntungan pahala kebaikan. Dampak dari kedua pandangan tersebut berpengaruh kepada bagaimana pola asuh yang dijalankan orang tua dalam memelihara anak-anaknya.
Pandangan Pertama: Anak sebagai Amanah dari Allah Swt.
Bagi orang tua yang menganggap anak adalah amanah dari Allah Swt., maka mereka akan menjaga dan memelihara anak-anaknya dengan penuh perhatian dan limpahan cinta kasih sayang. Mereka menyadari bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia ini sudah dibekali dengan potensi diri yang merupakan karunia dari Tuhan yang menciptakan. Menyadari hal itu, mereka akan berusaha memberikan lingkungan pendidikan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan pendidikan di sekolah agar anak-anak mereka mampu tumbuh dan mengembangkan diri dengan segala potensi yang dimilikinya secara maksimal. Mereka berharap anak-anak mereka kelak akan mampu menjadi orang-orang yang tangguh dan mampu menjalani kehidupan dengan baik.
Pandangan Kedua: Anak sebagai Investasi Masa depan Orang Tua
Sementara itu, bagi orang tua yang menganggap anak adalah tabungan atau investasi di masa depan, mereka akan mendidik anak-anaknya sesuai keinginan mereka. Terkadang mereka kurang peduli dengan bakat minat dan keinginan anak. Mereka sering membatasi anak-anak mereka hanya diperbolehkan untuk belajar ilmu tertentu saja yang mereka anggap akan bermanfaat untuk kehidupan masa depan anak versi orang tuanya. Sedangkan untuk ilmu-ilmu lain yang menurut pandangan orang tuanya dirasa kurang bermanfaat, maka mereka melarang anak-anaknya untuk mempelajarinya.


PANDANGAN PENULIS TENTANG KEDUDUKAN ANAK DALAM KELUARGA
Bagaimana pandangan penulis tentang anak, apakah cenderung sependapat dengan pandangan pertama bahwa anak adalah amanah Tuhan ataukah pandangan kedua bahwa anak adalah investasi masa depan? Dengan mempertimbangkan banyak hal, yaitu terkait tujuan penciptaan manusia, keistimewaan manusia, dampak kelahiran anak bagi kedua orang tuanya, dan potensi kemampuan yang dimiliki setiap anak, maka penulis berpendapat bahwa anak merupakan amanah Allah Swt yang harus dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Anak sebagai amanah Tuhan harus dijaga dengan baik melalui disediakannya lingkungan kehidupan untuk mereka tumbuh dan berkembang secara natural sesuai fitrah kehidupan yang telah ditakdirkan Allah Swt. pada mereka.
Dalam konteks pendapat penulis ini, orang tua berkedudukan sebagai hamba Tuhan yang terpilih dan mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengemban amanah yang mulia tersebut. Maka orang tua seyogyanya tidak memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya karena anak-anak telah memiliki garis suratan takdir sendiri untuk kehidupannya. Yang diperlukan oleh setiap anak adalah lingkungan yang kondusif dan mendukung diri mereka untuk bertumbuh dan berkembang secara alami untuk mengenali semua potensi dirinya yang telah dititipkan oleh Allah Swt.


IMPLEMENTASI PANDANGAN ANAK ADALAH AMANAH ALLAH SWT.
Pandangan penulis tersebut di atas tidak terlepas dari bagaimana pola asuh dan proses pendidikan keluarga yang dijalankan orang tua penulis. Orang tua penulis bersikap sangat demokratis dalam menentukan jalan hidup yang dipilih anak-anaknya. Mereka tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya, terutama dalam hal jurusan pendidikan yang akan diambil anak-anaknya. Kami (anak-anak mereka) diberikan kebebasan penuh untuk memilih jurusan yang akan kami ambil ketika mau melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Setiap anak diberikan kebebasan akan melanjutkan pendidikan tinggi ke mana dan akan mengambil jurusan apa. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh ditentang oleh anak-anaknya, yaitu semua anak-anaknya harus sekolah di sekolah berbasis keagamaan untuk sekolah tingkat dasar sampai sekolah tingkat menengah atas. Bagi orang tua penulis, pengetahuan agama sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan. Oleh karena itu, semuanya anak-anaknya disekolahkan di sekolah berbasis keagamaan seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasaha Aliyah.
Sebagai gambaran bagaimana demokrasinya pola asuh orang tua penulis, kakak tertua penulis memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agama Islam dengan mengambil jurusan ilmu dakwah. Penulis sendiri lebih tertarik mengambil jurusan pendidikan kimia sebagai pilihan saat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Sedangkan adik bungsu penulis lebih memilih jurusan teknik kimia sebagai pilihan studi sarjananya.
Walaupun pendidikan kami bertiga berbeda-beda jurusan, tetapi ternyata ketika berkarier, kami bertiga sama-sama memilih berprofesi yang sama yaittu menjadi pendidik. Penulis dan kakak penulis berprofesi sebagai dosen sedangkan adik penulis berprofesi sebagai guru di sekolah menengah. Walaupun awalnya kami berbeda-beda jurusan dalam menempuh pendidikan tinggi, tetapi ternyata profesi ayah kami yang dulu pernah menjadi guru SD telah menginspirasi kami semua untuk menekuni profesi sebagai pendidik. Tidak ada paksaan bagi kami untuk memilih menekuni profesi sebagai pendidik. Ini merupakan pilihan kami sendiri. Orang tua kami pun juga tidak pernah meminta kami untuk menjadi pendidik. Tetapi panggilan jiwalah yang menuntun kami pada akhirnya memilih menekuni profesi menjadi pendidik.
Demikianlah pola asuh dan proses pendidikan keluarga yang dijalankan orang tua penulis. Mereka tidak memilihkan kami jurusan pendidikan yang tepat untuk setiap anak-anaknya. Anak-anaknya sendiri yang memilih jurusan yang diminatinya. Mereka hanya berusaha menciptakan suasana lingkungan keluarga yang kondusif untuk tumbuh kembang anak-anaknya. Walaupun di tengah keterbatasan finansial dan kekurangan dana untuk membiayai pendidikan anak-anaknya, mereka berusaha mengenalkan anak-anak mereka dengan dunia pendidikan melalui penyediaan buku-buku bacaan di rumah. Sejak kecil penulis memang senang membaca. Semua buku-buku yang ada di rak buku di rumah penulis baca. Penulis bahkan memimpikan suatu saat akan memiliki perpustakaan pribadi yang berisi banyak koleksi buku. Lebih berani lagi, penulis bermimpi suatu saat nanti bisa menjadi seorang penulis buku.
Alhamdulillah mimpi-mimpi penulis di masa kecil dulu akhirnya sekarang bisa terealisasi. Sekarang penulis memiliki perpustakaan pribadi yang berisi banyak koleksi judul buku berbagai tema. Penulis juga sekarang telah mampu menulis buku sebanyak 125 judul buku, baik buku karya solo maupun buku-buku book chapter atau buku kolaborasi. Penulis tidak pernah menyangka jika mimpi-mimpi masa kecil dulu sekarang menjadi kenyataan. Semua apa yang penulis capai saat ini merupakan buah dari inspirasi orang tua penulis yang mengajarkan tentang pentingnya setiap orang mengenali dan memberdayakan potensi dirinya semaksimal mungkin.
Semua capaian prestasi yang berhasil penulis raih sekarang ini merupakan hasil dari petikan buah paradigma berpikir orang tua penulis bahwa anak adalah amanah Tuhan yang wajib dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya dan ditumbuhkembangkan segala potensi diri dan kompetensi diri yang dimiliki anak. Setiap orang tua harusnya bersyukur karena menjadi hamba Tuhan yang dipilih untuk menjaga dan memelihara amanah anak yang dititipkan-Nya. Maka sudah seharusnya jika orang tua menyediakan lingkungan pergaulan yang bernilai edukatif dan kondusif, baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan di luar keluarga (misalnya memilihkan sekolah yang tepat) sehingga memungkinkan anak mampu mengeksplorasi, mengenali, dan mengembangkan potensi dirinya semaksimal mungkin dengan bimbingan dan arahan dari orang tua dan orang-orang di sekelilingnya (pendidik).


PENUTUP: ANAK SEBAGAI SUBJEK KEHIDUPAN
Setiap anak ketika dipilih Allah Swt untuk terlahir ke dunia ini telah dibekali dengan potensi diri yang tersimpan dalam diri anak dan bersifat laten. Potensi diri anak tersebut akan bangun dan berkembang manakala anak tersebut menemukan atau berada di lingkungan yang tepat dan mendukung terbangunnya potensi diri anak tersebut. Ketika berada di dalam lingkungan yang cocok dengan karakter potensi dirinya, anak secara alami akan memunculkan segala potensi dirinya yang bersifat laten dan masih tersimpan di dalam dirinya. Anak akan secara alami mengembangkan kompetensi dirinya semaksimal mungkin. Pertumbuhan dan perkembangan potensi, bakat minat, passion, dan kompetensi anak berlangsung secara natural tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Hanya lingkungan yang tepatlah yang memungkinkan terbangunnya dan bangkitnya potensi diri anak secara alami.
Dapat diibaratkan seperti sebuah biji kacang ketika berada di daerah yang basah atau lembab secara alami akan tumbuh tunasnya dan tumbuh semakin besar menjadi sebuah pohon kacang yang dapat berbuah lebat. Demikianlah analogi potensi diri pada anak-anak. Ketika berada di lingkungan yang cocok dan sesuai dengan karakter potensi dirinya, maka secara serta merta tanpa menunggu datangnya aba-aba, anak akan segera memunculkan potensi dirinya yang selama ini tersimpan dalam dirinya dan berkembang melesat jauh menjadi kompetensi dan kemampuan yang luar biasa.
Demikianlah misteri kehidupan yang telah didesain oleh Allah Swt. Hanya hamba-hamba-Nya yang memahami hakikat kehidupanlah sajalah yang akan mampu menangkap maksud dari kehendak Allah Swt tersebut. Sekali lagi perlu kita pahami bahwa anak adalah amanah dan titipan dari Allah Swt yang di dalam diri anak telah dibekali potensi diri yang menunggu lingkungan yang tepat untuk bangun dan bangkit menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Maka tugas orang tua sebagai hamba yang menerima kehormatan untuk melahirkan dan memelihara anak titipan Allah Swt tersebut untuk menyediakan lingkungan yang mendukung anak menjalankan tugas perkembangannya secara alami sehingga kelak mereka mampu tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai blueprint yang ditetapkan Allah Swt. []

Postingan Populer