Powered By Blogger

Kamis, 07 Mei 2026

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN

Makna Pendidikan (27)



PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN 

Oleh:

Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.



Setiap anak yang terlahir ke dunia ini membawa potensi diri dan bakat yang terpendam. Anak-anak akan tumbuh berkembang dan mengenali bakat dan potensi dirinya manakala menemukan lingkungan yang kondusif untuk proses belajarnya. Oleh karena itu, anak-anak perlu mendapatkan lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang kompetensi dan bakat minat mereka. 


Sekolah adalah lingkungan pendidikan yang dipercaya sebagai tempat untuk membantu anak-anak mengenali potensi dan bakat minatnya serta untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi kompetensi. Sistem pendidikan di sekolah seharusnya memfasilitasi anak-anak tumbuh dan berkembang sesuai potensi diri dan bakat minatnya masing-masing.


Ketika memasuki lingkungan sekolah, anak-anak memiliki jiwa yang bebas untuk berekspresi dan mengaktualisasikan diri. Anak-anak memiliki pikiran yang murni dan kreatif. Anak-anak memiliki daya imaginasi yang kuat sebagai wujud pikiran kreatifnya. Sekolah diyakini akan mampu mengarahkan dan mengasah jiwa kreativitas anak-anak menjadi semakin terarah dan terasah. Sekolah dipercaya akan mampu meningkatkan rasa percaya diri anak untuk mengekspresikan kebebasan dirinya sesuai potensi diri dan bakat minatnya. Tetapi bagaimana fenomena yang terjadi? 


Kejadian di salah satu Daycare di kota Yogyakarta menggambarkan kondisi nyata salah satu sistem pendidikan di lingkungan kita. Anak-anak yang dekat dengan banyak bergerak dan bergembira dikekang kebebasannya dengan cara diikat kaki-kaki mereka. Mereka dipaksa diam dan patuh pada kemauan para pengasuhnya. Apakah ini bentuk sistem pendidikan yang membebaskan?


Kejadian tragis di Daycare di Yogyakarta tersebut mungkin hanya salah satu fenomena gunung es yang terjadi di dunia pendidikan. Saya percaya masih banyak lembaga pendidikan yang berorientasi ke tumbuh kembang anak. Saya percaya masih banyak sekolah yang benar-benar mendidik anak menjadi pribadi yang berkualitas. 


Untuk mengetahui bagaimana kualitas pendidikan di sekolah anak-anak kita, mungkin kita bisa bertanya ke anak-anak kita sendiri. Hari pertama masuk sekolah bagi siswa baru bisa menjadi indikator kualitas suatu sekolah. Selanjutnya respon anak di hari-hari berikutnya di sekolah akan dapat memberikan gambaran bagaimana kualitas proses pendidikannya. 


Saya selalu memantau kondisi anak saat hari pertama masuk sekolah. Saya biasa bertanya kepada anak-anak bagaimana sekolahnya. Dulu anak lanang saat pulang sekolah di hari pertama sekolah, saya tanya, "Bagaimana dek sekolahnya?" Si anak lanang menjawab, "Sekolahnya seru pi. Gurunya baik dan ramah". Mendengar jawaban anak lanang tersebut, saya lega karena anak sudah mempunyai kesan bahwa sekolahnya baik dan menyenangkan. 


Demikian juga saat si kecil Icha masuk sekolah, saya juga bertanya seperti itu dan mendapat jawaban yang tidak berbeda jauh. Setiap hari saya melihat si kecil Icha semangat dan ceria saat mau berangkat ke sekolah. Hal itu menandakan bahwa dia enjoy di sekolah. Saya percaya prestasi anak di sekolah akan dapat diraih ketika diawali dari rasa senang, nyaman, dan menyenangkan saat ke sekolah. 


Lingkungan sekolah yang nyaman, menyenangkan dan bebas dari rasa takut akan melahirkan jiwa-jiwa yang kreatif. Ketika anak-anak enjoy belajar dan bebas mengekspresikan diri saat di sekolah, mereka akan mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ketika anak-anak tidak merasa takut dan bebas dari tekanan, mereka akan mampu menunjukkan daya kreativitasnya dengan maksimal. Pada situasi seperti inilah, fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan yang membebaskan akan terwujud. Bagaimana dengan kondisi sekolah anak-anak anda? []


Gumpang Baru, 3 Mei 2026


NB. Artikel ini merupakan hasil pemikiran penulis, bukan hasil generate AI.


*) Dosen di Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret.

HASIL BELAJAR

Makna Pendidikan (28)

HASIL BELAJAR 

Oleh:

Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.



Pendidikan diselenggarakan untuk tujuan membekali peserta didik dengan kompetensi dan skill yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan. Lembaga pendidikan (sekolah, perguruan tinggi) dapat diibaratkan semacam tempat simulasi kehidupan dimana peserta didik dapat berlatih menghadapi tantangan kehidupan. 


Lembaga pendidikan yang baik adalah yang mampu menyesuaikan kurikulumnya sesuai dengan tuntutan zamannya dan zaman di masa depan. Karena peserta didik tidak hanya akan menghadapi kehidupan zaman sekarang, tetapi juga zaman di masa depan, maka seyogyanya lembaga pendidikan selain membekali peserta didik dengan kompetensi dan skill yang dibutuhkan di era sekarang juga harus membekali kompetensi dan skill yang dibutuhkan di masa depan. 


Lembaga pendidikan adalah sebuah lembaga yang berisi orang-orang yang dipandang memiliki kompetensi dan skill di atas orang-orang pada umumnya yang diharapkan mampu berpikiran visioner jauh ke depan sehingga mampu memprediksi jenis kompetensi dan skill yang dibutuhkan di masa depan. Lembaga pendidikan yang ideal memiliki struktur kurikulum yang up to date dan visioner. Jadi bidang garapan lembaga pendidikan adalah menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan ahli untuk zaman sekarang dan zaman di masa depan.


Peserta didik adalah subjek yang belajar di lembaga pendidikan. Peserta didik datang ke lembaga pendidikan untuk mendapatkan pembelajaran dan pelatihan tentang kompetensi dan skill yang diperlukan untuk menghadapi tantangan masa depan. Mereka adalah anak-anak yang membawa harapan besar dan memberikan kepercayaannya kepada lembaga pendidikan bahwa mereka akan memperoleh kompetensi dan skill yang akan membantu mereka sukses menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. 


Tetapi fakta di lapangan bagaimana? Apakah harapan setiap peserta didik terwujud? Apakah semua peserta didik yang belajar di lembaga pendidikan menjadi orang sukses dalam kehidupannya? Ternyata tidak semua orang yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan menjadi orang sukses. Orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan ada yang sukses dan ada yang tidak sukses. Lantas, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Faktor-faktor apa yang mungkin menjadi penyebabnya? Apakah lulusan lembaga pendidikan yang tidak sukses tersebut karena kesalahan dari lembaga pendidikannya? 


Setiap lembaga pendidikan pasti sudah berusaha mendesain struktur kurikulum pendidikannya agar relevan dengan tuntutan zaman dan perkembangan sains dan teknologi. Setiap periode waktu tertentu, lembaga pendidikan mengadakan rekonstruksi kurikulum. Kurikulum yang sudah didesain dengan baik tersebut perlu dukungan iklim lingkungan pendidikan yang baik pula serta dukungan dari tenaga pendidik. Kurikulum yang baik tidak akan mencapai tujuan dengan maksimal manakala supporting system-nya kurang baik. Iklim lingkungan pendidikan perlu didesain agar mendukung keberhasilan tujuan kurikulum. 


Ketika suatu lembaga pendidikan menerapkan kurikulum pendidikan tertentu, pasti lembaga tersebut sudah mempersiapkan supporting system-nya baik meliputi kebijakan manajemen, penyediaan sarana prasarana, lingkungan belajar yang kondusif, dan dukungan sumber daya manusia (pendidik) yang kompeten. Ketika lembaga pendidikan menyusun kurikulum pendidikannya, pasti juga merumuskan capaian pembelajaran dan profil lulusannya. Jadi proses pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan sudah memiliki arah yang jelas untuk dituju. Capaian pembelajaran dan profil lulusan menjadi panduan arah bagi lembaga pendidikan bagaimana melaksanakan proses pendidikannya dan akan menjadikan apa lulusannya. 


Jika lembaga pendidikan sudah mendesain sistem kurikulumnya secara terstruktur, sistematis dan terukur, selanjutnya tergantung kepada bagaimana usaha setiap peserta didik untuk memanfaatkan semua supporting system di lembaga pendidikan tempat mereka belajar untuk mendukung kemajuan belajar mereka. Juga bagaimana dukungan dari keluarga peserta didik terhadap perkembangan hasil belajar mereka. Keberhasilan hasil belajar peserta didik tidak hanya bergantung pada kualitas lembaga pendidikannya tetapi juga bergantung pada keseriusan mereka dalam menjalankan proses pendidikan dan dukungan lingkungan di keluarganya. 


Sistem pendidikan di lembaga pendidikan bersifat terintegrasi dimana semua sarana prasarana yang dimiliki merupakan resources sharing. Iklim suasana pembelajaran yang dibangun juga berlaku untuk semua peserta didik. Jadi keberhasilan proses pendidikan peserta didik ditentukan oleh keseriusan peserta didik dalam menjalani proses pendidikannya dan sejauh mana peserta didik memanfaatkan supporting system yang ada di lembaga pendidikan tempat mereka belajar. 


Jadi, jika lingkungan pembelajaran yang kondusif sudah didesain sedemikian rupa untuk mendukung keberhasilan belajar peserta didik, jika sarana prasarana sudah disediakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan jika kurikulum pendidikan sudah didesain mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan sains dan teknologi, maka tinggal satu faktor lagi yang dapat mendukung keberhasilan proses pendidikan peserta didik, yaitu peserta didik itu sendiri. []


Gumpang Baru, 6 Mei 2026


NB. Artikel ini ditulis berdasarkan hasil pemikiran penulis, bukan hasil dari generate AI.


*) Dosen di Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret.

Postingan Populer