Powered By Blogger

Minggu, 18 Oktober 2026

MONITORING PROSES BELAJAR ANAK

 Seni Mendidik Anak (2)


MONITORING PROSES BELAJAR ANAK 

Oleh:

Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.



Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Orang tua adalah guru pertama anak. Anak-anak pertama kali belajar keterampilan hidup dan akhlak dari orang tuanya. Maka di dalam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab terhadap kemajuan proses belajar anak-anaknya. 


Karena keterbatasan waktu dan kemampuan dalam mendidik anak-anak, maka banyak orang tua yang mendelegasikan proses pendidikan anak-anaknya kepada guru (sekolah). Dalam pelaksanaan proses pendidikan anak-anak, guru harus berkolaborasi dengan orang tua dalam menyukseskan proses pendidikan. Sekolah harus bekerjasama dengan orang tua wali murid agar visi misi dan tujuan sekolah tercapai dengan hasil maksimal. 


Orang tua tidak boleh lepas tangan terhadap proses belajar anak-anaknya karena merasa sudah menyerahkan ke sekolah. Pada hakikatnya, tanggung jawab pendidikan anak berada di pundak orang tua, sekolah hanya membantu orang tua melaksanakan proses pendidikan, bukan mengambil alih tanggung jawab pendidikan anak. Oleh karena itu, orang tua harus selalu memonitor progress belajar anak-anaknya.


Di kehidupan keluarga, kami berusaha selalu memonitor proses belajar anak-anak. Kami tidak ingin anak-anak tidak dapat menjalankan proses belajarnya secara maksimal. Kami tidak ingin anak-anak mengalami hambatan belajar tanpa tahu solusinya. Kami ingin anak-anak menjalani proses belajarnya dengan baik dan memberdayakan kompetensinya secara maksimal. 


Beberapa bulan ini, kami mengamati putri kecil kami tampak mengalami hambatan belajar sehingga proses belajarnya terkesan lebih lambat dari seharusnya, walaupun dia tetap menunjukkan performance terbaik di kelasnya. Tetapi jika dibandingkan dengan kemampuannya, kami merasa putri kecil kami mengalami pelambatan dalam proses belajarnya. 


Walaupun pengamatan kami tersebut belum sampai melihat penurunan prestasi belajar putri kami, yang artinya hasil belajar putri kecil kami masih kategori aman, tetapi kami memiliki kekhawatiran jika masalah tersebut tidak segera ditemukan faktor penyebabnya dan dirumuskan solusinya, akan berdampak negatif terhadap motivasi belajar putri kami.


Maka berdasarkan hasil identifikasi pengamatan terhadap progress belajar putri kecil kami, kami menghubungi guru sekolahnya untuk berdiskusi membahas permasalahan yang terjadi pada progress belajar putri kami. Setelah sebelumnya berkomunikasi awal melalui chat WhatsApp, akhirnya disepakati kami akan menemui langsung guru putri kami di sekolah. 


Setelah bertemu langsung dengan guru di sekolah, kami berdiskusi tentang progress belajar putri kecil kami dan mengidentifikasi kemungkinan permasalahan yang dihadapi putri kecil kami. Kami berdiskusi mulai dari bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan guru di kelas sampai bagaimana proses belajar anak di rumah dan juga bagaimana peran dan dukungan orang tua dalam mendukung proses belajar anaknya. 


Dari hasil audiensi kami dengan guru putri kecil kami tersebut, akhirnya teridentifikasi faktor-faktor penyebab putri kecil kami mengalami pelambatan dalam proses belajarnya. Dari pertemuan tersebut akhirnya disepakati langkah-langkah solutif yang perlu dilakukan oleh guru di sekolah maupun orang tua di rumah agar proses belajar putri kecil kami menjadi lebih baik dan hasil belajarnya lebih maksimal. []


Surakarta, 15 Oktober 2026

Sabtu, 17 Oktober 2026

MENJADI ORANG TUA YANG MENGINSPIRASI ANAK

 Seni Mendidik Anak (1)



MENJADI ORANG TUA YANG MENGINSPIRASI ANAK

Oleh:

Dr. Agung Nugroho Catur Saputro, M.Sc.



Anak dalam perkembangannya akan mencari role model untuk diikuti. Ketika di dalam kehidupan sehari-harinya, anak tidak menemukan sosok inspiratif di dalam kehidupan keluarganya, maka anak akan mencarinya di luar rumah. 


Di dalam kehidupan keluarga, orang tua memegang tanggung jawab besar dan memainkan peran penting untuk mengarahkan anak-anak. Orang tua memiliki peluang besar untuk menjadi role model bagi anak-anak. Orang tua berpeluang besar untuk menginspirasi anak-anak. 


Di dalam kehidupan keluarga, anak-anak tidak hanya melihat orang tuanya dalam rentang waktu sempit. Tetapi anak-anak justru bisa melihat sikap dan perilaku orang tuanya dengan rentang waktu yang lama. Anak-anak dapat melihat profil orang tuanya secara lengkap dan apa adanya. 


Pengamatan dan kesan anak terhadap orang tuanya tidak akan sama dibandingkan pengamatan anak kepada orang lain. Mengapa? Karena anak bergaul dan berinteraksi setiap hari selama 24 jam. Anak-anak benar-benar melihat langsung bagaimana pandangan, sikap, dan perilaku nyata orang tuanya. Hal ini tidak mungkin diperoleh anak terhadap orang lain karena dibatasi waktu yang terbatas. 


Sebagai misal, ketika seorang anak mengagumi seorang bintang film, umumnya kekaguman anak tersebut muncul karena melihat perilaku sang bintang di filmnya. Anak hanya melihat perilaku sang bintang sebatas di tayangan film yang berdurasi sekitar 1,5 - 2 jam. Perilaku sang bintang tersebut juga sebatas tuntutan skenario film, bukan perilaku asli sang bintang. Tetapi walaupun waktu mengamati sang bintang film cukup singkat, mengapa mampu menginspirasi anak-anak? 


Pertanyaan tersebut layak untuk menjadi bahan renungan bagi para orang tua. Anak berinteraksi dengan orang tua di kehidupan keluarga (rumah) setiap hari. Setiap waktu anak melihat sikap, perbuatan dan perkataan orang tuanya. Tetapi mengapa orang tua tidak mampu menginspirasi anak? Mengapa ada anak yang tidak bangga dengan orang tuanya? Mengapa anak-anak justru mudah mengidolakan orang lain? 


Wahai para orang tua, marilah kita renungkan bersama. Apakah kita sudah menjadi idola bagi anak-anak kita? Apakah perilaku kita sudah menginspirasi anak-anak kita dalam menjalani kehidupannya? Apakah karakter kita sudah menjadi contoh keteladanan untuk anak-anak kita? Mengapa anak-anak lebih suka mendengarkan perkataan para konten kreator dibandingkan mendengarkan perkataan kita? 


Sebagai akhir tulisan ini, saya mengajak para orang tua untuk mulai berefleksi bagaimana agar kita dapat menginspirasi anak-anak. Mari kita mulai dari mengevaluasi pola interaksi kita dengan anak-anak. Seberapa banyak waktu yang kita habiskan bersama anak-anak? Seberapa bermakna waktu kebersamaan kita dengan anak-anak? Dan seberapa besar dampak positif keberadaan kita dalam mempengaruhi kehidupan anak-anak? Mari kita renungkan. []


Gumpang Baru, 12 Oktober 2026

Postingan Populer